ini karangan gw.. pure hasil gw sendiri..
Persahabatan selalu indah bagi yang menghargai dan merasakan sahabat seperti dirinya sendiri. Persabahatan dapat terjalin tanpa mengenal batas Negara. Namun, yang selalu menjadi penghalang persahabatan adalah cinta. Cinta memang murni namun juga dapat mengubah persahabatan menjadi benci. Apa yang lebih penting antara CINTA atau SAHABAT?
Kiera POV
Langit begitu cerah hari ini, selamat datang musim semi. Musim yang paling aku cintai dari segala musim. Aku pagi ini mempersiapkan diri untuk bekerja. Ya, aku seorang jurnalis dari BBC yang berada di London, Inggris. Aku sangat bersemangat untuk hari ini karena disamping ini musim semi, ini adalah hari pengumuman apakah aku berhasil mendapatkan study banding di Indonesia. Indonesia, tempat ibuku dilahirkan dan dibesarkan yang secara tidak langsung adalah kampung halamanku. Aku tidak pernah kesana lagi karena ibuku sudah tidak memiliki siapapun disana sejak bencana gempa bumi yang melandang kota Jogjakarta. Aku terakhir kali kesana saat aku duduk di bangku SMA, sekitar 6 tahun yang lalu, sekarang usiaku 23 tahun.
Pagi ini aku hanya mengenakan T-shirt berwarna biru langit dan celana jeans. Setelah selesai mengikat sempurna rambutku, aku pun meluncur ke ruang makan. Aku masih tinggal bersama orang tuaku, mungkin agak aneh karena biasanya anak bisa memiliki kehidupan sendiri setelah berusia 18 tahun, ibuku tidak mengizinkanku karena ibuku masih sangat menjunjung tinggi budaya Timur. Aku senang dengan itu.
“Good morning, mom.” sambil memeluk ibuku yang sedang menyiapkan sarapan untukku. Ibuku hampir sama seperti aku, dia memiliki wajah yang bulat, badannya sedikit gempal, tingginya hanya 158cm, mata berwarna coklat, rambut hitam panjang dan tebal, dan berkulit sawo matang, khas orang Asia Tenggara. Aku mewarisi rambut serta wajahnya yang bulat, mataku seperti ayahku berwarna biru, memiliki tubuh yang langsing, memiliki tinggi badan yang proporsionil dan berkulit putih. Aku dirumah biasa menggunakan bahasa Indonesia bila sedang bersama ibuku dan menggunakan bahasa Inggris saat berbicara dengan ayahku.
“kamu ini selalu saja begini, gimana kalo kamu menikah nanti?” Ibu sambil menyiapkan piring dan aku duduk diruang makan sambil melihat sekeliling.
“mom, ayah mana?” ibu tersenyum sambil menyerahkan sarapan untukku.
“ayahmu sudah berangkat pagi tadi, katanya ada meeting mendadak pagi ini. Bagaimana dengan pekerjaan kamu, sayang?” aku hanya tersenyum sambil mengunyah makanan yang berada dalam mulutku setelah itu aku pun menjawab.
“Aku senang mom bekerja disana, orangnya baik dan ramah. Aku disana sudah hampir 5 bulan.” Ibuku hanya tersenyum sambil memberiku segelas susu yang sudah menjadi rutinitasku setiap pagi.
Setelah selesai sarapan dan mencium pipi ibuku, aku bergegas ke kantor tempatku bekerja. Saat aku menunggu di bus stop, seorang pria muncul dengan mobil Volvo silvernya dihadapanku. Pria itu adalah Thomas Richard, dia adalah sabahat serta cinta dalam hatiku.
Dia berusia 2 tahun lebih tua dariku, dia tinggi, berbadan sixpack karena dia sering berolahraga, berwajah tampan dan selalu ada disaat aku butuh seseorang. Aku sudah menyukainya sejak aku menjadi tetangganya saat aku SMP. Richard membukakan pintu untukku, aku pun dengan segera masuk kedalam mobilnya.
“good morning, my little sister.” Dia menyapaku dengan aksen british yang sangat kental. Aku pun membalas sapaannya. Little sister adalah panggilan dia untukku. Aku sebenarnya masih berharap lebih dari sekedar sister baginya.
“kayaknya kamu hapal ya kapan aku berangkat kerja?” Richard melihat kearahku.
“Oh, jadi kamu ga mau bareng sama aku lagi?”.buru-buru aku meluruskan pertanyaanku.
“eh, bukan begitu maksudku. Aku kan cuma nanya lagian kalo misalnya ada kamu kan aku hemat uang. hehehe” Richard tersenyum dan mengelus rambutku dengan tangannya yang bebas dari kemudi mobilnya. “kamu tetap saja ga berubah. Aku suka kok nganterin kamu lagian kita kan satu arah.” Aku tersipu mendengar pernyataan dia tentang senang kalau aku menebeng padanya.
Jalanan pagi ini cukup padat karena banyak kantor yang sudah memulai kegiatan mereka. Aku mengobrol banyak saat aku bersama Richard.
Jujur saja, aku masih merasakan debaran jantungku yang tidak karuan rasanya. Setelah sampai di kantorku, aku turun dari mobilnya dan mengucapkan salam perpisahan. Richard bekerja dikantor yang bersebrangan dengan kantorku.
“Keira, good morning.” Mrs. Drew menyambutku ditempat resepsionisnya.
“Good morning, Mrs.Drew.” aku tersenyum kepadanya dan berjalan menuju lift yang terletak disebelah kanan resepsionis.
“Wait, Keira. You’ve got the mail.” Aku berhenti dan kembali menghampiri Mrs. Drew yang sudah meletakkan surat itu diatas meja resepsionisnya.
“thanks Mrs. Drew” aku mengambil surat itu, Mrs. Drew hanya membalas dengan senyuman dan aku masih membolak-balikkan surat ini dan berpikir surat ini darimana.
Saat aku sampai diruangan tempatku bekerja sebagai editor naskah yang harus dibacakan oleh pembawa berita, aku hanya menaruh surat itu diatas meja sementara aku mengerjakan naskah berita yang akan dibacakan siang ini, ada sekitar 24 berita.
Setelah hampir 2 jam aku menyelesaikan tugasku, akhirnya aku pun bisa menyenderkan kepalaku dibangku yang aku duduki setelah Aku menyerahkan naskah yang sudah ku edit dan kembali ke ruanganku, aku teringat dengan surat pagi ini. Aku agak terkejut bahwa ada symbol KBRI disebelah kanan atas surat, ini adalah surat yang aku tunggu-tunggu. Jantungku berdetak dengan cepatnya saat aku mulai membuka surat ini, aku pun membaca surat ini.
Dear Mrs. Tymm
We are from Indonesian Embassy announced you that you application for study in university of Indonesia was accepted and you can learn in there until 6 (six) months. We are waiting you confirm by 3 days.
Sincerely,
Indonesian Embassy
Aku kaget bercampur gembira saat mendapatkan surat ini, tak sadar aku berteriak yang membuat seluruh orang yang berada diruangan sebelahku mendatangi ruanganku.
“Keira, what’s happen? It’s everything ok?”Mr. Green bertanya dengan suara cemas.
“Oh, I’m ok. I’m only excited.” Aku menjelaskan dengan wajah yang berbinar-binar.
Mr. Green menatapku aneh, aku pun hanya bisa menyerahkan surat itu kepada Mr. Green, dia adalah atasanku dan selalu menyuportku, dia sudah berusia setengah baya, memiliki keluarga dan aku sudah menganggapnya ayah keduaku.
Mr. Green tersenyum senang karena dia tau betapa inginnya aku kembali berkunjung ke Indonesia.
“I’m Proud of you Keira.” Mr. Green memelukku saat mengucapkan itu. Berita itu tersebar satu kantor dan semua mengucapkan selamat kepadaku.
Jam pulang kerja pun tiba, aku tidak pernah memudarkan senyum yang seharian ini selalu aku tebarkan. Richard sudah menungguku di lobby, dia menatapku aneh.
“kamu ga apa-apa Kei?” Aku hanya tersenyum, sebenernya tidak sabar ingin memberitahukannya namun aku sengaja membuatnya penasaran.
“kamu kenapa sih?” Richard semakin penasaran saat kami berada didekat mobilnya.
“aku ga apa-apa, kamu tebak aja.” Aku tersenyum nakal yang membuatnya makin penasaran.
“ih, kamu gitu yah. Ngomong dong sama aku.” aku melihat muka Richard yang mulai menyerah akupun memberitahukannya.
“Hah? Masa? Aku seneng ngedengernya.” Richard memelukku, tidak dapat ku pungkiri jantungku seakan mau lepas dari tempatnya.
“kamu pasti nanti kangen sama aku, aku kan jauh nanti.” Aku sambil menjulurkan lidahku kepadanya dan Richard kembali mengelus rambutku.
“iya pasti kangen sama my little sister ku yang satu ini.” Sebenarnya hatiku sakit setiap kali dia menyebutku little sister dan lebih sakit lagi saat aku harus pergi meninggalkan dia.
Kim Hyun Mi POV
Udara dingin sekali, hari ini adalah hari terakhir musim gugur. Besok sudah musim dingin yang suhunya hampir -40C. Aku sudah mengenakan mantel andalanku saat musim dingin dan sarung tangan untuk menjagaku tetap hangat. Sudah pukul 9 malam, aku masih berada di lobby Lotte Entertainment, tempatku bekerja, menunggu taxi yang tak kunjung datang.
“Hyun Mi ssi, gwaenchana?” Mrs. Park yang masih berada dikantor menegurku karena aku sendirian berada dilobby sambil mengepalkan tanganku.
“ne, gomsahamnida Mrs. Park. Kau sudah mau pulang?” aku sambil berdiri kearahnya.
“Anni, aku masih banyak pekerjaan. Kau kenapa belum pulang?” Mrs. Park melihatku.
“aku sedang menunggu taxi Mrs. Park tapi taxinya belum datang.” Aku menunjukkan muka lelahku.
“Omo, kasian sekali kamu. Kamu pakai saja mobilku dulu Hyun Mi, aku bisa dijemput suamiku.” Aku langsung menolaknya.
“Anni, anni, anni. Aku bisa pulang berjalan kaki.” Park Min Young ssi ingin menyerahkan kunci mobinya namun aku menolaknya dengan halus. Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan kaki. Aish, udara dingin ini menusuk tulang, aku menyesal harus meninggalkan ruangan hangat di kantorku namun aku tidak mau membuat orang lain berkorban untukku.
Tttiiiiiiinnnn, ttttttiiiiiiinnnn, ttttiiiiinnnn..
ARRGGGHHH, siapa sih yang memainkan klakson malam-malam begini, padahal aku sudah berjalan di trotoar. Awalnya aku tidak menghiraukan mobil itu, namun mobil itu terus mengklaksoniku, akhirnya aku menengok kearah mobil itu yang sudah sejajar denganku. Kaca mobil itu terbuka dan aku memiringkan kepalaku untuk melihat siapa orang yang daritadi membuatku kesal setengah mati. Aku terkejut saat menemukan wajah yang sangat tampan, wajah yang selalu menemani mimpi dalam tidurku sekarang ada dihadapanku. OMO! Aku tidak bisa berkata apa-apa. Pria ini adalah Choi Siwon, anak dari pemimpin perusahaan tempatku bekerja dan juga sebagai atasanku dikantor.
.“Sekertaris Kim, sedang apa kamu malam-malam berjalan kaki?” aku agak bingung untuk menjawab pertanyaannya.
“eee...eeee...na, aku mau pulang.” Siwon tersenyum padaku yang membuat jantungku berdetak dengan cepatnya. Siwon keluar dari dalam mobilnya untuk menghampiriku.
“pekerjaanmu sudah selesai? Malam sudah terlalu larut lebih baik kamu pulang bersamaku.” Aku terpatung saat mendengar kata-kata itu.
“hello, nyawamu masih disinikan?” siwon melambaikan tangannya untuk menyadarkanku dan tersenyum manis dengan menunjukkan dimplesnya didepanku.
“Ne, aku masih sadar, sajangnim. Gamsahamnida, aku bisa pulang sendiri.” Aku tersenyum kepada Siwon dan mulai berjalan kembali.
Siwon menarik tanganku dan sedikit memaksaku untuk pulang bersamanya. Hatiku bersorak gembira, nae wangjanim yang selama ini aku impikan sekarang duduk berada disampingku dengan menggunakan kemeja berwarna putih dan celana jeans yang terlekat pas pada badannya yang terbentuk sempurna. aku mengepal tanganku didepan dadaku untuk mengurangi rasa gugupku, Siwon melihatku dengan tatapan aneh karena didalam mobilnya sudah terdapat penghangat yang cukup untuk mengusir rasa dingin, namun mengapa tanganku masih mengepal.
“Sekertaris Kim, Gwaechana?” Siwon menyadarkanku kembali kedunia nyata.
“aaaa.... anni, anni, aku baik-baik saja, sajangnim.” Siwon masih tidak percaya dengan pernyataanku. “Jeongmal? Apa kamu kedinginan? Apa kau sakit?” Siwon mengucapkannya dengan nada cemas dan ingin memeriksa keningku dengan tangannya yang bebas.
“Ne, sajangnim. Naneun gwaenchana.” Aku sedikit menghindar dan tersenyum untuk meyakinkan dia bahwa aku baik-baik saja.
“baiklah, setelah sampai rumah, kau harus istirahat ya, sekertaris Kim.” Siwon kembali fokus untuk mengemudikan hyundai, mobil kesayangannya.
“Ne, sajangnim.” Aku tersenyum.
Akhirnya kami sampai didepan apartementku, yang berada didaerah distrik Seoul. Aku keluar dari mobil namun Siwon membuka jendela mobilnya
“sekertaris Kim, besok kau antarkan jadwalku keruanganku.” Siwon tersenyum.
“Ne, sajangnim. Oia, kamu tidak ada acara dengan bandmu?” Aku melihatnya dengan perasaan bertanya-tanya.
“Anni, sekertaris Kim, aku libur makanya aku meminta jadwalku.” Aku hanya menganggukan kepala.
“Aku pulang dulu, Sekertaris Kim. Annyeong.” Aku menundukkan kepala.
” Annyeong hi gyeseyo.” Aku masih berdiri ditempatku pertama kali turun dari mobil nae wangjanim.
Aku masih tidak percaya bahwa malam ini, aku diantar olehnya. Mobil Hyundai sudah luput dari pandanganku, udara dingin meniup wajahku yang membuatku tersadar dari diamku. Aish, dinginnya. Aku pun masuk kedalam flat kecilku. Flatku berada dilantai 10, setelah aku sampai didepan pintu flatku aku menekan bel. Aku tinggal di flat ini bersama yeodongsaeng ku, Kim Young In. Aku hanya berbeda usia 1 tahun dengan yeodongsaengku.
Aku sangat mirip dengan yeodongsaengku yang berbeda hanya mata dan rambut saja. Yeodongsaengku berwajah sedikit oval dengan pipi chubby, bermata agak sipit, senyumnya sangat manis, tingginya 160cm, rambutnya coklat panjang sebahu yang dibiarkan terurai indah dan bertubuh langsing. Dia adalah perempuan manis dimataku sedangkan aku memiliki mata yang bulat seperti kakekku, rambutku hitam kecoklatan yang dipotong pendek dengan model potongan segi-layer, tinggi 162cm dan langsing. Aku sudah tinggal bersamanya sejak orangtua kami berpisah 3 tahun lalu.
“jangkuman~sebentar.” Young In berteriak yang cukup terdengar olehku. Tak lama pintu terbuka.
“Onnie, kenapa kau pulang malam?” Aku tidak menjawabnya hanya melepas sepatu dan masuk kedalam flat. “Onnie, kau kenapa?” Young In masih berdiri didepan pintu yang sudah tertutup sekarang.
“weo? Memangnya aku kenapa?” dengan nada kesal, aku sambil membuka pintu kamarku.
“tidak biasanya kau pulang malam onnie.” Aku masuk kekamar, itu membuat dongsaengku kesal.
Didalam kamar aku senyum-senyum sendiri membayangkan apa yang telah terjadi tadi, rasanya bagai mimpi. Aku mengganti pakaianku, Young In memanggilku.
“Onnie, gwaenchana?” aku keluar dari kamarku dan dongsaengku terlihat cemas.
“naneun gwaenchanayo, kau tidak perlu khawatir.” Young In bernafas lega karena mendengar jawabanku. “Onnie, kau sudah makan? Aku sudah siap kan bulgogi untukmu.” Aku agak terkejut mendengar apa yang dimasak dongsaengku.
“Aish, kau berbohong pada onniemu ini ya? Kau kan tidak bisa memasak sama sekali.” Sambil menuju dapur untuk mengambil minuman, Young In menatapku tak percaya.
“Onnie, kau tidak percaya dengan keahlianku? Aish, kau jahat sekali.” Young In menampakkan wajah kekesalannya padaku.
“ne.. kau adalah dongsaengku tersayang. Aku akan makan masakanmu.” Aku tersenyum untuk menghibur adikku
“Chincca? Baiklah aku ambilkan dulu ya, Onnie” Young In setengah berlari kedapur untuk mengambil bulgogi yang sudah disiapkan untukku. Aku menuju meja makan yang letaknya dekat dengan ruang televisi,
Setelah aku memastikan Young In tidak memerhatikanku, aku kembali menyunggingkan senyum saat mengingat kembali.
“Onnie.” Young In menatap aneh kearahku karena melihat aku tersenyum sendiri dan aku terkejut saat melihat Young In sudah berada didepanku.
“Onnie, kau kenapa? Pasti ada sesuatu yang tidak kau bilang padaku atau jangan-jangan kau bertemu dengan nae wangjanim ya?” wajahku memerah tanpa aku sadari saat yeodongsaengku bisa nebak apa yang terjadi padaku.
“Anni, aku tidak bertemu dengannya.” Young In menatapku tidak percaya.
“Onnie, aku kenal kau. Mana mungkin kamu tersenyum tanpa sebab, ceritalah padaku Onnie.” Aku sedikit menimbang-nimbang untuk menceritakan dengan dongsaengku ini, akhirnya aku memutuskan untuk bercerita. “Chincca? Kau ini benar-benar beruntung onnie, aku jadi iri. Jadi besok kau bertemu dengannya lagi?” Young In mengatakannya dengan tatapan berbinar-binar kearahku.
“Ne, besok aku bertemu dengannya.” Aku tersenyum lebar untuk mengekspresikan kebahagiaanku.
Setelah kami selesai makan, dongsaengku menyuruhku untuk beristirahat dengan nyenyak supaya keesokan harinya wajahku bisa terlihat lebih cerah. Keesokan harinya tidak ada matahari karena ini hari pertama musim dingin, aku sudah rapi mengenakan mantel untuk menjaga suhu tubuhku tetap stabil.
Aku dan yeodongsaengku bersamaan keluar rumah untuk bekerja, kami tidak satu arah sehingga kami tidak dapat naik bus bersama. Aku mengecup pipi dongsaengku sebagai tanda perpisahan. Aku menaiki bus menuju tempat kerjaku, sesampainya dikantor.
“Hyun Mi ssi, selamat pagi.” Aku membalas sapaan teman sekantorku, Im Joong Nim dan tersenyum. Aku tidak sabar untuk segera sampai meja tempatku bekerja dan menyerahkan jadwal untuk nae wangjanimku, namun nae wangjanimku belum hadir sampai waktu makan siang.
“Hyun Mi ssi, kita makan yuk?” salah satu teman kantorku mengajakku, aku hanya tersenyum sambil menundukkan kepala
“aku tidak bisa, Onnie. Aku menunggu Siwon shi, aku harus menyerahkan jadwalnya.” Temanku terkejut. “Omo, kau ini, Siwon shi tidak akan ada disini sampai 3bulan lagi, aku baru mendapat kabar dari manager SM.” Aku menatapnya tak percaya.
“Jeongmal?” Temanku hanya menganggukan kepala dan aku percaya temanku, mungkin aku terlalu berharap nae wangjanim kembali hadir didepan mataku.
Aku memakan makan siangku tanpa menikmatinya sama sekali, aku sedih menerima kenyataan nae wangjanim tidak bisa aku temui. Waktu bekerja sudah selesai, aku berjalan kaki melewati jalan seperti yang kemarin aku lewati berharap peristiwa kemarin terulang lagi. Namun, saat-saat itu tidak akan terjadi 2kali, aku berjalan lesu ke apartementku yang berjarak lumayan jauh. Sesampainya aku diflat, aku membuka kotak surat, berdasarkan nomor flat dan namaku, yang terletak dilobby apartmentku.
Hanya ada satu surat, aku mengambilnya dan membawanya ke flatku tanpa membukanya. Setelah aku masuk didalam flatku, aku memutuskan untuk membaca surat yang masih aku pegang.
Aku terkejut karena terdapat lambang KBRI disudut kanan atas surat tersebut. Tanpa ragu aku membukanya dan membacanya. Aku terkejut aku berhasil terpilih untuk belajar di Indonesia, Negara yang menurut kakekku adalah Negara yang kaya. Kegembiraan berita ini dapat sedikit melupakan kesedihanku karena tidak dapat bertemu nae wangjanim. Aku langsung menelpon yeodongsaengku untuk mengabarkan berita ini, Young In merasa sangat gembira saat mendengarnya dan ingin membaca surat itu saat tiba dirumah.
Hana Sakura POV
Dinginnya udara pagi ini menembus mantel tebalku yang selama ini bisa diandalkan saat musim dingin. Hacchiii, hidungku langsung memerah ketika bersin. Aku mengepalkan tanganku didadaku sambil duduk di halte bus, tempatku sekarang menunggu. Aku menuju tempat kerjaku yang terletak di Tokyo, di pusat pendidikan, aku bekerja disana sebagai konseling. Aku sudah sampai didepan kantor tempatku bekerja.
“Ohayo Gozaimasu, Ojosan~selamat pagi nona.” Aku tersenyum sambil membalas sapaan security yang menjaga didepan kantor. Aku menaiki lift dan menuju ruangan kerjaku yang terletak disudut kanan lantai 12 ini. Aku melepas mantelku dan menggantungkannya ditempat gantungan baju yang terletak disamping pintu ruanganku. Aku menghembuskan nafasku untuk bersiap menghadapi kepenatan rutinitas yang sudah didepan mata menantiku.
Tok..tok..tok..
Baru pukul 8.30 pagi sudah ada yang mengetuk pintuku.
“Boku yusuru hairu, ojosan~boleh saya masuk.” Sekertarisku didepan pintuku menunggu jawabanku. “dozo~silahkan.” Sambil menyuruh Fumiko Hanata, sekertarisku tersebut duduk dihadapanku.
“Fujin Sakura, kita sudah bekerja sama dengan pemerintah di Indonesia dan menteri pendidikan kita menginginkan kita untuk mengirimkan salah satu karyawan untuk belajar disana selama 6 bulan.” Aku masih menahan rasa penasaranku dengan bersikap tenang dan menunggu sekertarisku ini selesai berbicara.
“Menteri kita ingin mengajukan anda sebagai wakil ke Indonesia untuk belajar di Indonesia” kali ini aku sedikit terkejut.
“nani?~apa. Naze?~kenapa” sekertarisku kembali menjelaskan dan berusaha membujukku agar aku mau pergi kesana.
“karena menurut sekertaris menteri, kemampuan bahasa inggris dan kinerja anda selama ini cukup untuk dibebankan tugas ini.” Aku berpikir dan menimbang-nimbang untuk menerima tugas ini,
“Yoroshii~baiklah, kapan aku pergi ke Indonesia?” sekertarisku terkejut ketika aku langsung mengiyakan tugas ini kerena biasanya aku sedikit manja dan suka pilih-pilih tugas yang cukup membuat dia kesal kepadaku.
“Nani? Kau mau menerima tugas ini?” masih menatapku tidak percaya.
“Naze? Kau terkejut?” aku tersenyum kepadanya dan semakin membuat sekertarisku bingung.
“biasanya kau tidak seperti ini? Apa kau baik-baik saja?” Aku hanya tertawa mendengarnya.
“aku baik-baik saja sekertaris Hanata, setelah ku pikir-pikir ke Indonesia bisa menjadi tempatku liburan juga.” Sambil tersenyum dihadapannya.
“pantas saja kau langsung mengiyakannya, aku lupa kau ingin sekali liburan. Yoroshii, kau akan pergi besok pada penerbangan terakhir, aku akan menyiapkan keperluanmu disana.” Sambil berdiri, sekertarisku menyerahkan beberapa lembar map dokumen tugasku untuk diteliti dan ditanda tangani olehku.
Aku langsung meneliti, menyelesaikan yang masih kurang dan menandatangani dokumen dalam map tersebut. Pekerjaanku selesai tepat pada saat makan siang, aku malas makan siang. Aku hanya menyeduh sereal instan yang selalu aku bawa didalam tasku dan aku membuka laptopku untuk bisa berinternet.
Aku mencari-cari informasi tentang Indonesia agar aku tidak terlalu buta ketika berada disana dan mencari tempat rekreasi disana. Aku kembali melanjutkan pekerjaan minggu lalu yang sedikit terbengkalai setelah aku selesai surfing tentang Indonesia di internet. Hampir pukul 6 malam selepas menyelesaikan sisa-sisa tugasku, aku memutuskan untuk meninggalkan ruangan kerjaku dan pulang ke Nagayo, rumahku. Aku menunggu bus di halte yang tepat berada disebrang jalan kantorku. Aku hanya termenung didalam bus sambil menikmati malam terakhir sebelum besok aku ke Indonesia.
Aku hanya tinggal bersama obasanaku~nenekku yang sudah merawatku sejak aku masih berusia 10 tahun, ryoshinku~ayah-ibuku pindah ke Eropa untuk bekerja dan hanya mengunjungiku sesekali.
Aku membuka pintu rumah obasanaku.
“kaeru, obasana~ aku pulang nek.” Nenekku menonton acara televise kesukaannya dan melihat kedatanganku.
“Kau sudah pulang?” aku menghampiri nenekku dan memeluknya, rutinitasku setiap aku pulang bekerja. Nenekku sudah berusia 78 tahun namun masih bisa melakukan aktifitas seperti biasanya, aku salut kepadanya.
“Obasana, aku besok ada tugas ke Indonesia selama 6 bulan?” nenekku terkejut.
“nani? Mengapa mendadak sekali.” Aku menjelaskan kepada nenekku. Akhirnya nenekku mengerti dan mengizinkanku.
“yoi~baiklah, jika kalau ini memang tugas, aku mengizinkanmu asal kau selalu mengirimkan kabar kepadaku, wakuru~mengerti?” aku menganggukan kepala dan kembali memeluk nenekku.
“hai~oke, aku akan mengabarimu obasan.” Sudah pukul 8.15 malam, kami makan malam bersama. Nenekku memasakkan sushi tuna kesukaanku.
“umai~enak, obosan.” Sambil mengunyah sushi yang masih berada dalam mulutku.
“masakan nenekmu ini tidak pernah tidak enak.” Nenek tersenyum dan melanjutkan makannya. Aku akan rindu dengan masakan nenekku yang paling lezat se-Jepang ini, aku menikmati makan malam terakhirku bersama nenekku. Setelah selesai makan dan membereskan piring makan malamku, aku menaiki tangga ke lantai 2 untuk bersiap tidur namun sebelumnya aku mencuci muka, menyikat gigi dan mengganti pakaianku.
Pagi ini aku terbangun namun tidak langsung bergegas ke kantor karena sekertaris Hanata mengirim pesan untukku bahwa aku diliburkan hari ini untuk menyiapkan barang-barangku.
Aku turun kelantai bawah untuk mengambil minum didapur, nenekku tidak ada dirumah, mungkin dia sedang belanja. Masih mengenakan piyama, aku menyeduh sereal dan memakannya. Dengan enggan aku kembali kekamar untuk menyiapkan koper dan mengemasi pakaianku. Handhone ku berdering. “moshimoshi.” Aku terkejut saat sekertaris Hanata memberitahukanku tentang perubahan jadwal pesawat yang rencananya berangkat sore ini, menjadi siang ini. Setelah selesai mengemasi pakaianku, aku bergegas mandi.
Aku sudah rapi berpakaian kemudian aku tidak sengaja melirik foto ibuku yang terbingkai diatas tembok kamarku. Ibuku bermata sipit, berkulit putih, berambut lurus, dan tidak terlalu gemuk. Aku mewarisi kulitnya yang putih dan rambutnya namun mata bulatku, bibir tipisku, dan tubuh yang proporsional diwarisi oleh ayahku yang berkebangsaan Itali. Aku rindu dengan orang tuaku, namun aku langsung menepis rasa rindu itu saat melihat jam sudah hampir tengah hari. Aku sedikit berlari sambil membawa koper menuruni tangga. Nenekku yang baru saja pulang dari pasar terkejut melihatku terburu.
“Sakura, kau kenapa?” aku berhenti dan menoleh kearah nenekku.
“penerbangannya dimajukan nek jadi siang ini, aku sudah telat. Aku berangkat ya nek.” Sambil berlari menghampiri nenek dan mengecup pipinya, aku keluar rumah dan memberentikan taksi yang tepat melaju didepan rumahku.
Stella Margaretha POV
Berada diruang pemotretan di musim panas agak menyebalkan untukku, aku mencintai matahari dan ingin menikmatinya. Pekerjaan sebagai model ini banyak menyita waktuku namun penghasilannya setimpal dengan apa yang aku korbankan. Aku adalah model iklan untuk brand minuman dan makanan saja. Aku memiliki wajah yang cantik, berambut sedikit ikal dengan warna coklat kemerahan sampai ke pundak, bertubuh langsing dan tinggiku 175cm. Aku masih berada didalam ruang rias dan sedang di make-up oleh penata make-up yang biasa mendandaniku. Pemotretan kali ini adalah pemasaran produk minuman dan pasanganku adalah David Beckam, pemain sepakbola yang terkenal tampan, kaya dan idolaku.
“Stella, are you finish?” fotograferku memasuki ruangan rias untuk memastikan apakah aku sudah selesai merias wajahku.
“what a second, I’ll be there.” Sambil memoles blush-on untuk terakhir kalinya, aku langsung berdiri dan berjalan keruang pemotretan. David Beckam sudah siap dengan pakaian pemotretan yang telah disiapkan, kami pun langsung bergaya sesuai koreo yang diberikan oleh instruktur pemotretan.
Hampir 2 jam pemotretan itu belangsung, aku sudah haus dan letih yang mengharuskan beristirahat sejenak. Aku pun duduk di bangku yang berada di dekat kaca yang menghadap langsung ketanam dan menyenderkan badanku dibangku tersebut. Huh capenya.
“It is for you.” Sekaleng soda sudah berada didepan mataku, aku menoleh kearah siapa pemberi soda itu berasal. Pemberi soda itu adalah pria yang tampan, sangat tampan, berambut sedikit gondrong berwarna perunggu, umurnya mungkin baru berusia 25 tahunan, mengenakan T-shirt berwarna abu-abu dan jeans yang agak belel.
“sorry, who are you?” pria itu hanya tersenyum dan menjawab. “I’m John, John Franklin.” Aku bingung karena aku merasa tidak mengenalnya.
“Excuse me, are we know each other?” sambil menatap curiga kepadanya. Sekarang pria ini malah tertawa saat melihat ekspresiku.
“Don’t worry lady, I don’t want to kidnap you. I’m Mr.Beckam’s assistent.” Pria itu masih menjejalkan soda itu kepadaku, aku pun menerima soda itu dan dia duduk tepat disampingku.
“I’m sorry I never see you.” Sambil meminum soda itu perlahan.
“I know, by the way I’m your big fans.” Sambil tersenyum kearahku.
Aku tidak percaya orang setampan dia menjadi fansku, masih menatap pria yang berada disampingku. Aku merasakan desiran halus menusuk kalbuku. Aku suka dengannya.
“Why? Kenapa menatapku seperti itu?” aku agak salah tingkah saat dia menanyaiku.
“ah, tidak apa-apa. Aku hanya berpikir kamu sedang bercanda saat kamu bilang kamu adalah fansku.” Pria itu melirik kearahku sambil meminum sodanya.
“kenapa kamu tidak percaya? Memangnya aku tidak pantas ya menjadi fansmu?” aku pun sedikit bingung.
“eemmm bukan begitu tapi aku tidak pernah menemui fans dan berhadapan langsung dengan mereka, seperti saat ini.” Sambil memegang sodaku didekat bibirku.
Pria ini hanya tersenyum “kamu ini lebih cantik daripada yang difoto.” Mukaku merah padam saat mendengar pria asing yang mengaku fansku dan secara menakjubkan aku langsung menyukainya.
“aku harus menemani Mr. Beckam dulu ya, kamu minum sodanya aku tau kamu haus dan lelah.” Sambil berdiri dan beranjak berjalan kearah ruang pemotretan. Aku tersenyum dan melihatnya sampai dia hilang dari pandanganku. Oh God! What’s going on? Hati ini benar-benar berdegup cepat saat melihat pria yang tadi berada disampingku. Apa benar aku langsung menyukainya saat aku melihatnya. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku setelah menaruh kaleng soda disampingku.
Setelah selesai beristirahat, aku melanjutkan pemotretan. Pria itu berada didekat fotografer yang sebelumnya tidak aku perhatikan, aku merasakan gugup yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku tidak dapat membohongi hatiku, ya, aku memang menyukainya. Senyuman yang tersungging tulus dibibirku terjadi saat aku melihat dia tersenyum kepadaku. Pukul 8 malam pemotretan baru selesai, aku menuju kamar rias untuk mengganti pakaianku. Setelah selesai mengganti pakaian, aku berjalan keluar menuju tempat mobilku terparkir. Pria itu berada disebrang jalan, dia sedang menyetir mobil Nissan kepunyaan Beckam, aku melihat ke arahnya dan dia menoleh kearahku sambil tersenyum manis didepanku.
Deg! Degupan hati ini semakin kencang, aku tersenyum riang sesaat setelah mobil Nissan itu melesat dihadapanku.
Hampir memakan waktu satu jam untuk sampai di apartemenku yang berada di New Jersey dari Los Angeles, tempat pemotretanku. Aku masih tersenyum membayangkan wajah pria itu sambil menuju flatku. Aku tinggal dengan saudara sepupuku, Marry Angela. Aku membuka pintu dengan kunci cadangan yang selalu aku bawa. Tanpa mengganti pakaian dan cuci muka, aku langsung menuju kamarku dan merebahkan badanku. Jam baru menunjukan 6 pagi namun matahari seperti sudah jam 9 yang membuatku terbangun karena sinar matahari menembus penutup jendelaku. Aku dengan enggan bangun dari tidurku dan menuju kamar mandi. Setelah selesai dari kamar mandi, aku menuju dapur dan menuangkan cereal untuk menu sarapanku.
“Stella, is it you?” aku masih menyantap sarapanku. Memangnya siapa lagi orang yang tinggal diflat ini, batinku.
“stella, bisa kita bicara?” Marry menuju ketempatku berada dan duduk disebelahku.
“what do you want to talk, Marry?” sambil menyendokan kembali cereal kemulutku.
“aku mendapat undangan untuk study di Indonesia selama 6 bulan, namun aku tidak bisa dan aku tanpa sepengetahuanmu aku memberitahu mereka untuk mengganti namaku dengan namamu.”
Marry sambil mengenggam tangannya berusaha untuk menutupi ketakutannya. Marry sepupuku yang berusia sama denganku, namun dia selalu mencari beasiswa untuk pendidikannya padahal aku masih mampu menanggung sekolahnya.
“Pardon?” aku menatap tidak percaya dan menaikan suaraku.
“aku minta maaf Stella, sebenarnya aku ingin sekali pergi kesana namun aku juga mendapat undangan untuk pergi ke Inggris.” Marry menundukkan kepalanya karena takut melihat wajahku sekarang. Aku menahan marah dengan mengenggam erat sendok,
“Kau, kau ini tidak berpikir ya? Aku disini memiliki pekerjaan bagaimana aku bisa menggantikanmu!” Marry terkejut mendengar aku hampir berteriak saat mengucapkannya.
“Aku minta maaf, aku sudah menelpon agencymu dan meminta izin 6bulan untukmu dan mereka menyetujuinya.”
Aku menatapnya tidak percaya dan jantungku semakin berdetak kencang Karena menahan amarahku.
“apa tidak bisa dibatalkan?” Marry terbata-bata menjelaskannya.
“eee..ee sudah tidak bisa Stella, kalau kita membatalkan kita harus membayar ganti rugi untuk mereka.” Aku semakin menatap Marry dengan tidak percaya.
Aku pun berdiri meninggalkan sarapanku yang tiba-tiba hilang sudah nafsu makanku dan menuju kearah jendela untuk berpikir. Marry masih menunggu jawabanku dengan duduk diam dibangku meja makan.
Aku menengadahkan kepala sambil menghembuskan nafas dan membalikkan badanku kearah Marry.
“Kapan keberangkatan ke Indonesia?” Marry terkejut dengan perkataanku.
“hari ini penerbangan sore, kamu benar-benar menerimanya?” sambil menatapku.
“iya aku akan pergi, aku tidak mau berurusan dengan pemerintah, itu benar-benar memusingkan.” Marry menuju kearahku dan memelukku.
“Thanks, Stella. Aku janji tidak akan membuatmu susah lagi.” Aku pun hanya tersenyum setengah hati. Ya, sekali-kali berbuat baik dengan sepupuku apa salahnya, batinku. Marry dengan sigapnya mengemasi pakaianku dan surat-suratku saat aku sedang mandi.
Aku hanya melihat Marry tanpa ekspresi dan menuju kamar khusus pakaian, saat aku membuka handphoneku ada pesan singkat dengan nomor yang tidak aku kenal bertuliskan Good summer, Princess. Have a nice your day. Aku berpikir siapa yang mengirim pesan ini karena tidak ada yang memanggilku princess kalaupun fansku tidak ada yang mengetahui nomor ponselku. Aku menaruh handphoneku diatas meja yang berada disudut kanan ruangan dan mengenakan pakaianku.
Handphoneku berbunyi dan aku melihat nomor tersebut sama dengan nomor yang mengirimkan pesan singkat kepadaku. Aku mengangkatnya.
“hello, who’s speaking?” dengan nada datar.
“Ini aku John, apa kabar? Aku mendapatkan nomormu dari managermu. Oia, kata mereka kau akan study di Indonesia selama 6bulan ya?” aku terpatung saat mengetahui pria asing kemarin yang menelponku. Aku pun menjawab
“iya aku akan study di Indonesia. Kenapa?”
pria itu menjawab “tidak aku akan rindu denganmu, bolehkan aku berhubungan denganmu sebagai teman?” aku terkejut mendengar kejujurannya.
“boleh kok.” Kira-kira 10 menit pria ini menelponku, dia mengakhiri pembicaraan karena harus mempersiapkan perlengkapan Beckam.
Pria ini adalah pria yang menyenangkan dan sedikit membuat perasaan marahku hilang dan aku juga merasa senang karena pria ini mengajakku berteman. Segera aku mengambil koperku yang sudah berada didepan kamarku untuk pergi menuju bandara setelah mengucapkan salam perpisahan kepada Marry.
to be continued..
